Danantara Targetkan Merger BUMN Karya Tuntas Usai Restrukturisasi Semester II 2026

Kamis, 05 Februari 2026 | 10:42:15 WIB
Danantara Targetkan Merger BUMN Karya Rampung Semester II 2026 Usai Restrukturisasi Menyeluruh

JAKARTA - Upaya penyehatan sektor konstruksi pelat merah terus bergulir dengan tahapan yang semakin mengerucut.

Danantara Indonesia memastikan proses konsolidasi melalui merger Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya berada di jalur yang telah ditetapkan, dengan target penyelesaian pada semester II/2026. Langkah ini menjadi fase lanjutan dari strategi besar pembenahan menyeluruh yang telah dimulai sejak beberapa tahun terakhir.

Alih-alih terburu-buru menggabungkan entitas yang belum siap, Danantara memilih pendekatan bertahap. Fokus utama diarahkan pada perbaikan fundamental, mulai dari pembersihan laporan keuangan, restrukturisasi utang, hingga penataan ulang model bisnis, agar penggabungan yang dilakukan benar-benar menghasilkan entitas yang sehat dan berkelanjutan.

Pembersihan Laporan Keuangan Jadi Fondasi Awal

Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa peta jalan penyehatan BUMN Karya kini telah memasuki fase krusial. Tahap awal yang dilakukan pada tahun lalu difokuskan pada pembersihan laporan keuangan melalui impairment aset agar kondisi keuangan masing-masing perusahaan dapat dipetakan secara lebih transparan.

“Tahun lalu kita sudah lakukan pembersihan dulu, kita rapikan buku-bukunya melalui impairment. Setelah rapi buku-bukunya, bisnisnya kita restrukturisasi, termasuk penurunan utang-hutangnya,” ujar Dony.

Langkah ini dinilai penting sebagai dasar pengambilan keputusan lanjutan. Dengan laporan keuangan yang lebih bersih dan realistis, Danantara dapat memastikan setiap kebijakan restrukturisasi dilakukan secara tepat sasaran, tanpa menimbulkan risiko baru di kemudian hari.

Restrukturisasi Bisnis dan Utang Jadi Prioritas

Setelah tahap pembersihan laporan keuangan, Danantara mengalihkan fokus pada restrukturisasi utang dan model bisnis BUMN Karya. Menurut Dony, tahapan ini menjadi kunci untuk memastikan setiap perusahaan memiliki struktur operasional yang lebih efisien dan berdaya saing.

Restrukturisasi dilakukan untuk menurunkan beban utang sekaligus menata kembali arah bisnis agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar dan kapasitas perusahaan. Dengan model bisnis yang lebih sehat, entitas hasil merger diharapkan mampu mencatatkan kinerja yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Dony menegaskan bahwa merger tidak akan dilakukan selama kondisi keuangan dan operasional perusahaan belum sepenuhnya siap. Bagi Danantara, penggabungan bukan sekadar langkah administratif, melainkan fase akhir dari proses penyehatan menyeluruh.

Merger Sebagai Tahap Akhir Konsolidasi

Dalam kerangka besar restrukturisasi, merger diposisikan sebagai tahapan terakhir. Dony menilai, konsolidasi hanya akan efektif jika seluruh BUMN Karya yang digabungkan telah berada dalam kondisi sehat secara finansial dan operasional.

“Setelah sehat semua, baru kita lakukan konsolidasi tahapannya. Dan kita harapkan tahun ini harus selesai, jadi kemungkinan besar nanti akan kita lakukan di semester dua,” pungkas Dony Oskaria.

Jika seluruh proses restrukturisasi berjalan sesuai rencana, Danantara menargetkan penggabungan secara legal dapat dieksekusi pada paruh kedua tahun 2026. Pendekatan ini diharapkan dapat meminimalkan potensi gangguan sekaligus memastikan hasil merger benar-benar memberikan nilai tambah bagi industri konstruksi nasional.

Integrasi Tujuh BUMN Karya dalam Tiga Klaster

Sebelumnya, rencana integrasi tujuh BUMN Karya dipastikan mengalami penyesuaian jadwal. Merger yang semula diproyeksikan rampung pada Desember 2025, kini diundur hingga 2026 untuk memberi ruang bagi proses penyehatan yang lebih komprehensif.

Tujuh BUMN Karya yang masuk dalam rencana konsolidasi tersebut adalah PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero).

Berdasarkan informasi yang diterima, penggabungan akan dilakukan dalam tiga klaster. Waskita Karya dan WIKA akan dipasangkan dengan Hutama Karya. Sementara itu, ADHI akan digabung ke dalam PTPP, dan Brantas Abipraya dipasangkan dengan Nindya Karya.

Skema klaster ini dirancang untuk menciptakan keseimbangan kapasitas, pengalaman proyek, serta kekuatan finansial di masing-masing entitas hasil konsolidasi.

Target Penyelesaian Semester II 2026

Dengan tahapan yang telah ditetapkan, Danantara optimistis proses merger BUMN Karya dapat diselesaikan sesuai target pada semester II/2026. Pendekatan yang hati-hati dan bertahap diharapkan mampu menghasilkan entitas konstruksi pelat merah yang lebih solid, efisien, dan siap menghadapi tantangan industri ke depan.

Konsolidasi ini juga dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat daya saing BUMN Karya, sekaligus mengurangi risiko keuangan yang selama ini membayangi sektor konstruksi. Melalui restrukturisasi menyeluruh sebelum merger, Danantara ingin memastikan bahwa penggabungan tidak hanya menyatukan perusahaan, tetapi juga menghadirkan fondasi bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi industri konstruksi nasional.

Terkini