Smelter HPAL Pomalaa dan Morowali Ditargetkan Rampung 2026, Vale Genjot Produksi Nikel untuk Baterai EV

Selasa, 03 Maret 2026 | 09:23:46 WIB
Smelter HPAL Pomalaa dan Morowali Ditargetkan Rampung 2026, Vale Genjot Produksi Nikel untuk Baterai EV

JAKARTA - Upaya hilirisasi nikel nasional terus bergerak maju. Salah satu proyek strategis yang kini memasuki tahap krusial adalah pembangunan pabrik pengolahan nikel berteknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL) milik PT Vale Indonesia Tbk. (INCO). 

Dua fasilitas besar yang berlokasi di Pomalaa, Sulawesi Tenggara dan Morowali, Sulawesi Tengah ditargetkan segera tuntas dalam waktu dekat.

PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) mengumumkan bahwa pembangunan pabrik pengolahan nikel atau smelter High-Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara (Sultra) dan di Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng) bakal segera rampung. Pabrik di Pomalaa rencananya selesai pada akhir tahun ini, begitu pun dengan pabrik di Morowali. Namun jika pabrik HPAL Morowali belum bisa rampung di 2026, maka paling lambat targetnya adalah 2027.

Bagian dari Proyek Indonesia Growth Project (IGP)

Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia Tbk. Endra Kusuma mengatakan dua pabrik pengolahan tersebut masuk dalam proyek Indonesia Growth Project (IGP) perseroan yang telah dimulai sejak 2022 lalu. Proyek ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama industri nikel global.

IGP Pomalaa adalah proyek tambang dan pabrik HPAL dengan nilai investasi mencapai US$4,43 miliar. Dalam pembangunannya, Vale bermitra dengan produsen baterai EV asal China, Huayou dan produsen mobil asal Amerika Serikat, Ford. Kolaborasi ini memperlihatkan besarnya minat global terhadap pengembangan rantai pasok baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Saat ini progres konstruksi IGP Pomalaa telah mencapai 65,76%. Kendati demikian penjualan bijih mineral telah mulai dilakukan dengan first ore sell dilaksanakan pada 28 Februari 2026 lalu. Vale mematok target produksi sebesar 300.000 ton limonit per bulan atau sekitar 9.677 ton per hari.

"Jika pabrik HPAL kami rampung, maka akan diproduksi nikel dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP) yang dapat digunakan untuk menjadi bahan utama pada baterai kendaraan listrik," ujar Endra Kusuma.

Perkembangan Proyek IGP Morowali

Sementara itu IGP Morowali adalah proyek penambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan investasi mencapai US$2 miliar. Proyek ini bertujuan untuk mendukung pengembangan industri nikel Indonesia dengan fokus pada pengolahan nikel menjadi produk setengah jadi yang penting untuk sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik.

Dari sisi progres pembangunan, proyek ini sudah hampir selesai. Saat ini progres IGP Morowali telah mencapai 98,85% dan telah mencatatkan penjualan sebanyak 2,2 juta ton ore di awal 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa operasional awal sudah mulai berjalan sambil menunggu penyelesaian penuh fasilitas pengolahan.

Langkah ini dinilai strategis karena mempercepat monetisasi hasil tambang sekaligus menjaga arus kas perusahaan selama fase penyelesaian proyek berlangsung.

Komitmen Reklamasi dan Keberlanjutan Lingkungan

Selain fokus pada pembangunan fasilitas industri, Vale juga menekankan aspek keberlanjutan lingkungan dalam operasionalnya. Di Morowali, perusahaan tidak hanya menjalankan aktivitas penambangan, tetapi juga mempersiapkan proses reklamasi lahan.

"Di Morowali, hingga akhir Januari 2026, kami juga telah melaksanakan hydroseeding seluas 26 hektar, serta telah meresmikan lokasi pembibitan berkapasitas 400.000 bibit per tahun untuk reklamasi bekas tambang nantinya," tutur Endra Kusuma.

Langkah hydroseeding dan pembangunan fasilitas pembibitan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memastikan kegiatan tambang tetap memperhatikan aspek pemulihan lingkungan. Dengan kapasitas pembibitan mencapai ratusan ribu bibit per tahun, proses reklamasi diharapkan dapat berjalan lebih terencana dan berkelanjutan.

Dorongan Hilirisasi dan Industri Baterai EV

Rampungnya dua pabrik HPAL tersebut akan memperkuat ekosistem hilirisasi nikel di dalam negeri. Produk mixed hydroxide precipitate (MHP) yang dihasilkan nantinya menjadi bahan baku penting untuk baterai kendaraan listrik, sejalan dengan meningkatnya permintaan global terhadap energi bersih.

Investasi besar yang digelontorkan dalam proyek IGP Pomalaa dan IGP Morowali menunjukkan keseriusan Vale dalam menangkap peluang transisi energi. Kehadiran mitra strategis seperti Huayou dan Ford juga mempertegas posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai EV dunia.

Dengan progres konstruksi yang terus berjalan dan target penyelesaian yang semakin dekat, dua proyek ini diharapkan dapat menjadi pendorong pertumbuhan industri nikel nasional sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di pasar global. Apabila seluruh fasilitas beroperasi penuh sesuai jadwal, kontribusi terhadap produksi nikel olahan dan pengembangan industri baterai dalam negeri akan semakin signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Terkini