Jelang Lebaran 2026 dan Gejolak Global, BI Perkuat Stabilitas Inflasi dan Sistem Keuangan

Selasa, 03 Maret 2026 | 11:24:33 WIB
Jelang Lebaran 2026 dan Gejolak Global, BI Perkuat Stabilitas Inflasi dan Sistem Keuangan

JAKARTA - Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan dinamika ekonomi dunia yang belum sepenuhnya pulih, Bank Indonesia (BI) menegaskan kesiapsiagaannya menjaga stabilitas nasional. 

Momentum Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri yang identik dengan lonjakan konsumsi menjadi perhatian khusus, terlebih ketika risiko eksternal ikut membayangi perekonomian domestik.

Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas inflasi nasional dan sistem keuangan menjelang momentum Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri tahun ini.

Upaya tersebut juga dilakukan di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk memanasnya tensi geopolitik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) yang berpotensi memengaruhi perekonomian dunia.

Sinergi Kebijakan Jaga Stabilitas Nasional

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan bank sentral akan terus bersinergi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kebijakan untuk menjaga stabilitas harga serta sistem keuangan domestik guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berdaya tahan.

“Komitmen Bank Indonesia tetap menjaga stabilitas. Kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga memastikan inflasi tetap terkendali,” ujar Aida dalam acara Kontan Share & Learn dan Bank Indonesia di Jakarta Pusat.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa BI tidak hanya berperan sebagai otoritas moneter yang menetapkan kebijakan suku bunga, tetapi juga aktif melakukan stabilisasi di pasar untuk meredam gejolak yang muncul akibat faktor eksternal maupun domestik.

Tiga Jalur Pengawasan Stabilitas Ekonomi

Menurut Aida, terdapat tiga jalur utama yang menjadi perhatian BI dalam menjaga stabilitas harga dan sistem keuangan. Pertama adalah jalur harga komoditas global. BI memantau perkembangan harga komoditas strategis seperti minyak dan emas, termasuk dampaknya terhadap harga pangan domestik.

“Sekarang kami sudah mulai melihat bagaimana perkembangan harga minyak dan emas. Nanti juga penting melihat harga pangan, karena kalau harga minyak meningkat tentu akan berdampak pada biaya transportasi dan lain-lain,” jelasnya.

Kenaikan harga minyak global, misalnya, berpotensi mendorong biaya distribusi dan logistik yang kemudian berdampak pada harga barang dan jasa di dalam negeri. Karena itu, pengawasan terhadap komoditas global menjadi bagian penting dari strategi pengendalian inflasi.

Kedua adalah jalur pasar keuangan, khususnya pergerakan nilai tukar rupiah yang sangat dipengaruhi dinamika pasar global. Ketiga adalah jalur volume perdagangan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

“Bank Indonesia akan terus melakukan monitoring terhadap indikator-indikator terkini melalui tiga channel tersebut,” kata Aida.

Pendekatan melalui tiga jalur tersebut menunjukkan bahwa BI memandang stabilitas ekonomi sebagai hasil interaksi berbagai faktor, mulai dari harga komoditas, pasar keuangan, hingga aktivitas perdagangan.

Ekonomi Global Dinamis dan Penuh Ketidakpastian

Ia menambahkan, kondisi ekonomi global saat ini masih berada dalam fase dinamis dan penuh ketidakpastian. Selain tren perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, pasar juga dihadapkan pada ketidakpastian kebijakan suku bunga global serta memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

“Kalau kami melihat pertumbuhan ekonomi global, keyword-nya adalah dinamis dan penuh ketidakpastian,” ujarnya.

Situasi tersebut menuntut respons kebijakan yang adaptif dan terukur. Ketidakpastian global dapat memicu volatilitas di pasar keuangan, pergerakan arus modal, hingga perubahan harga komoditas yang berdampak langsung pada stabilitas domestik.

Prospek Domestik Tetap Terjaga

Di sisi lain, prospek ekonomi domestik pada 2026 dinilai tetap terjaga. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 4,9% hingga 5,7%, dengan inflasi tetap berada dalam target 2,5% plus minus 1%.

Aida menjelaskan, momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 diperkirakan akan didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat selama periode HBKN serta belanja pemerintah.

“Pada kuartal pertama ini ada banyak HBKN yang mendorong masyarakat melakukan spending. Selain itu, pemerintah juga akan meningkatkan belanja untuk memastikan berbagai program berjalan dengan baik,” jelasnya.

Peningkatan konsumsi pemerintah dan swasta tersebut diharapkan mampu menjaga permintaan domestik di tengah ketidakpastian global.

“Di tengah kondisi global yang dinamis dan penuh ketidakpastian, kami kembali pada modal utama yaitu menjaga permintaan domestik,” katanya.

BI juga memperkirakan defisit transaksi berjalan tetap terkendali pada kisaran minus 0,1% hingga 0,9% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, pertumbuhan kredit diproyeksikan berada di kisaran 8% hingga 12% pada tahun ini.

Dengan proyeksi tersebut, BI menilai fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat untuk menghadapi tantangan eksternal. Stabilitas inflasi dan sistem keuangan menjadi prasyarat utama agar momentum pertumbuhan tetap terjaga.

“Komitmen Bank Indonesia tetap menjaga stabilitas. Itu saya garis bawahi dan kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga inflasi. Dan nanti pada saatnya kami akan merespons kebijakan yang lebih utuh lagi pada saat RDG (Rapat Dewan Gubernur) bulanan,” ujar Aida.

Penegasan ini menjadi sinyal bahwa BI siap mengambil langkah kebijakan lanjutan sesuai perkembangan situasi. Di tengah Ramadan, Idul Fitri, dan dinamika global yang terus berubah, stabilitas ekonomi tetap menjadi prioritas utama.

Terkini