JAKARTA - Pasar saham Indonesia memulai perdagangan hari ini dengan ekspektasi yang relatif moderat namun tetap menyimpan peluang penguatan terbatas.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan menguat menuju area 8.300. Proyeksi ini muncul setelah indeks sempat mengalami tekanan menjelang libur panjang, sekaligus mencerminkan sikap pelaku pasar yang masih berhati-hati menimbang faktor eksternal dan domestik.
Tim Riset Phintraco Sekuritas menilai secara teknikal IHSG memiliki ruang untuk rebound terbatas setelah sebelumnya ditutup melemah 0,64% ke level 8.212,27. Pelemahan tersebut belum sepenuhnya menghapus potensi perbaikan karena sejumlah indikator mulai menunjukkan tanda stabilisasi. “IHSG hari ini, 18 Februari 2026 diperkirakan bergerak konsolidasi pada kisaran level 8.150 hingga 8.300,” tulis tim riset. Dengan kata lain, ruang kenaikan masih terbuka, meski belum didukung oleh dorongan yang benar-benar kuat.
Data Inflasi AS dan Arah Kebijakan The Fed
Dari sisi global, perhatian investor tertuju pada perkembangan data ekonomi Amerika Serikat. Data inflasi CPI yang dirilis pada Jumat, 13 Februari 2026 tercatat lebih rendah dari perkiraan pasar, menyusul data tenaga kerja yang sebelumnya menunjukkan kondisi lebih baik dari ekspektasi. Kombinasi dua data tersebut memberi sinyal bahwa tekanan harga di AS mulai melandai, meski belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran mengenai arah kebijakan moneter.
Pelaku pasar kini menantikan rilis indeks PCE Prices yang dijadwalkan pada Jumat, 20 Februari 2026. Data tersebut dipandang penting karena menjadi indikator inflasi favorit Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga. Selain itu, risalah rapat FOMC juga akan menjadi acuan utama untuk membaca sejauh mana bank sentral AS membuka peluang penyesuaian kebijakan moneter berikutnya. Ketidakpastian ini membuat investor global cenderung bersikap wait and see, yang pada akhirnya ikut memengaruhi pergerakan pasar saham di kawasan, termasuk Indonesia.
Perjanjian Dagang RI-AS sebagai Katalis Domestik
Dari dalam negeri, pasar menaruh perhatian besar pada agenda politik-ekonomi yang dinilai strategis. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menandatangani Perjanjian Perdagangan Resiprokal dengan Presiden Amerika Serikat pada 19 Februari 2026. Kesepakatan ini mencakup tarif resiprokal sebesar 19% terhadap sejumlah produk Indonesia, dengan pengecualian untuk komoditas CPO, kopi, dan kakao. Selain itu, terdapat pula rencana impor migas dari AS senilai US$15 miliar.
Langkah ini dipersepsikan sebagai upaya memperkuat hubungan dagang bilateral sekaligus menjaga keseimbangan neraca perdagangan. Bagi pasar saham, kesepakatan tersebut berpotensi menjadi katalis positif, terutama bagi sektor-sektor yang terkait langsung dengan perdagangan internasional dan energi. Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati detail implementasi kebijakan tersebut, termasuk dampaknya terhadap daya saing produk nasional.
Efisiensi Anggaran dan Stabilitas Makroekonomi
Pemerintah juga mengklaim telah melakukan efisiensi anggaran hingga Rp380 triliun pada tahun pertama masa pemerintahan, yang selanjutnya dialokasikan untuk program-program prioritas dan penciptaan lapangan kerja. Di samping itu, komitmen investasi senilai Rp90 triliun yang diperoleh dari kunjungan luar negeri sebelumnya turut memperkuat optimisme terhadap prospek ekonomi nasional.
Dari sisi makro, inflasi yang relatif terkendali serta stabilitas ekonomi yang masih terjaga menjadi faktor penopang sentimen pasar. Namun, risiko tetap ada, khususnya dari pergerakan nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp16.825 per dolar AS. Jika yield US Treasury kembali meningkat, tekanan terhadap rupiah berpotensi membesar dan dapat memicu arus keluar dana asing dari pasar saham domestik.
Strategi Investor dan Rekomendasi Saham
Dalam kondisi pasar yang bergerak konsolidatif, strategi yang disarankan adalah melakukan akumulasi selektif pada saham-saham yang mulai membentuk pola rebound secara teknikal dan memiliki dukungan fundamental sektoral. Tim riset Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang layak dicermati dalam perdagangan jangka pendek.
Untuk PT Harum Energy Tbk (HRUM), rekomendasi yang diberikan adalah trading buy dengan entry di level 1.120, stop-loss di 1.080, serta target harga bertahap di Rp1.200, Rp1.250, dan Rp1.285. Saham ini dinilai memiliki peluang teknikal untuk melanjutkan penguatan seiring stabilisasi harga komoditas.
PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) juga masuk dalam daftar pilihan dengan rekomendasi trading buy pada kisaran entry Rp830–840, stop-loss di Rp810, serta target harga pertama Rp880–900 dan target lanjutan Rp940. Sementara itu, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) direkomendasikan trading buy dengan entry Rp1.730, stop-loss Rp1.675, serta target harga bertahap di Rp1.825, Rp1.900, dan Rp2.000.
Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, pergerakan IHSG hari ini diperkirakan masih akan berada dalam fase konsolidasi dengan peluang penguatan terbatas. Sentimen global terkait inflasi AS dan kebijakan The Fed, serta sentimen domestik dari perjanjian dagang dan kebijakan fiskal pemerintah, akan menjadi penentu utama arah pasar. Investor disarankan tetap disiplin menerapkan manajemen risiko sembari memanfaatkan peluang pada saham-saham pilihan yang menunjukkan sinyal teknikal positif.